Setelah membaca berita di BBC Indonesia tentang sebuah
gerakan di media sosial menyerukan agar anak muda tidak pacaran karena dinilai
sebagai 'bentuk kemaksiatan'. Yaitu gerakan Indonesia Tanpa Pacaran.
Yang menarik perhatian saya adalah gerakan ini menuai pro
dan kontra bagi masyarakat, (kenapa menuai kontroversi ya? Padahalkan pacaran
ini banyak sekali sisi negatifnya) alasan ini lah yang membuat saya ingin
berpendapat (cinta deh sama Indonesia yang memiliki kemerdekaan untuk
mengemukakan pendapat).
Bismillah
Tau dong ayat yang bunyinya jangan mendekati zina, nah dari
situ pacaran ini banyak di larangnya, apasih kegiatan pacaran ini? (jawab
sendiri) dosa gak sih pacaran? (jawab sendiri).
Dan saya pun tidak sengaja (walaupun saya sudah sering mendengarkan
lecture yang diberikan oleh beliau tapi bukan yang ini)melihat youtube tentang kisah
pelanggaran hari sabath oleh brother Nouman Ali Khan, yang setelah saya tonton menurut
saya kesimpulan yang saya pahami dari lecture ini kurang lebih sama dengan apa
saya ingin bahas mengenai bagaimana sikap kita. Silahkan di baca atau di tonton
telebih dahulu https://www.youtube.com/watch?v=KpWyiBU54OE
Transkrip saya peroleh dari http://nakindonesia.tumblr.com/post/122727725982/juz-9-pelajaran-dari-kisah-pelanggaran-hari
Juz 9 - Pelajaran Dari Kisah Pelanggaran Hari Sabath - Nouman Ali Khan
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa. [Al A'raf: 164]
Assalaamu alaykum Quran Weekly.
Saya ingin berbagi ayat ke-164 dari
surat Al A’raf di juz ke-9 di Al Quran. Dan ini berkaitan dengan kisah
orang-orang yang melanggar hukum hari Sabath (Sabtu). Di hari Sabtu, Allah
menguji mereka (Bani Israil) dengan ikan-ikan yang gaduh dan melompat-lompat
dari air.
Sehingga para nelayan yang tidak
dibolehkan memancing di hari Sabtu akan tergoda. Dan akhirnya mereka melanggar
hukum hari Sabath (Sabtu). Ada diantara kaum muslim yang mencoba memperingati
dan memberikan nasihat pada mereka.
Jadi saat itu ada dua kelompok. Ada
kelompok yang tidak peduli akan urusan halal dan haram. Merekalah yang
melecehkan dan melanggar hukum hari Sabath. Pada saat itu mereka sebenarnya
adalah muslim, tolong ini diingat.
Dan ada pula orang-orang religius yang tidak melanggar hukum Allah. Namun orang religius inipun dibagi lagi ke dalam dua kelompok. Satu kelompok mengatakan, “Mereka yang melanggar tetaplah saudara kita, memangnya kenapa bila mereka tak terlalu religius?”
Kita harus berbicara pada mereka dan katakan, “Seharusnya kamu tidak melakukan hal yang seperti ini. Ini tidak benar.”
Dan kelompok lainnya mengatakan,
“Tidak, mereka itu liberal, mereka itu progesif. Lupakan saja mereka, lagi pula
Allah akan menghancurkan mereka, mereka semua orang-orang munafik. Ngapain kamu
ganggu mereka? Tidak usah ganggu mereka.”
Jadi ayat ini berisi percakapan antara dua kelompok yang sebenarnya religius yang mematuhi Allah dan hari Sabath. Yang berselisih pendapat untuk perlu atau tidak, berbicara pada muslim yang melanggar aturan Allah.
Saya katakan muslim, karena mereka (Bani Israil) adalah muslim pada waktu itu.
Dan ketika suatu umat di antara mereka
berkata, “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka?
Atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras? Lihatlah bagaimana
orang-orang ini begitu munafiknya, mereka akan dihukum di neraka.”
Akan ada kelompok muslimin, yang melihat ada dosa diantara kelompok muslim lainnya. Lalu mereka akan mengutuk kelompok tersebut akan masuk neraka. Itulah yang ingin mereka lakukan. Misalnya mereka katakan, “Allah telah mengabaikannya, mereka berasal dari api neraka, maka kesanalah mereka kembali. Tidak usah menganggu mereka dengan memberi dakwah. Mereka ini bukan umat kita yang sesungguhnya.”
Lalu kelompok ini pun kemudian mendatangi kelompok religius yang berniat memberi nasihat pada mereka. Bahkan mereka yang akan memberi nasihat itu, mereka tidak pergi dan mengatakan, “Apa yang kamu lakukan itu haram, kamu akan dibakar di neraka, dan lain-lain.”
Kata yang digunakan adalah, “Lima taizhuuna qaumaa”. Kata “taizhuu” itu berarti nasihat dan bimbingan yang cukup lembut yang dapat menembus ke dalam hati. Dengan kata lain, mereka yang berbicara dengan kelompok muslim yang melanggar hukum itu. Berusaha mengajak berbicara dengan mereka yang berbuat kerusakan. Untuk meraih hati mereka terlebih dahulu.
Sebelum akhirnya mereka “menampar” mereka dengan mengatakan, “Jangan lakukan hal seperti ini.” Mereka berusaha mengajak perasaan mereka untuk mengingat Allah, yang akan melembutkan hati mereka.
Ini penting untuk dicatat, bahwa dakwah bukanlah kamu selalu memberitahu seseorang untuk tidak melakukan sesuatu. Dakwah terkadang hanya butuh mengingatkan mereka bahwa misalnya, “Allah-lah yang menciptakan kamu, apakah kamu tahu bahwa kamu harus memenuhi perintahNya? Kita harusnya bersyukur pada Allah.”
Cukup diingatkan untuk ingat Allah. Kamu terkadang tidak harus mengatakan bahwa orang itu melakukan hal-hal yang haram. Cukup banyak ingatkan mereka pada Allah. Dan mereka nanti akan menyimpulkan sendiri bahwa perbuatannya salah.
Terkadang
yang orang-orang itu butuhkan adalah peringatan akan Allah. Bukan yang mereka
lakukan dihadapanmu. Karena mereka nanti bisa bertahan dengan perilakunya
tersebut.
Kelompok muslim religius yang suka menolak ini mengatakan, "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?”
Lihatlah
betapa yakinnya mereka akan apa yang akan Allah lakukan pada mereka. Ini
menakjubkan ‘kan? Seolah-olah Allah memberitahukan mereka, inilah yang akan Ia
lakukan pada orang-orang ini. Kamu tahu darimana mereka tidak akan bertaubat?
Kamu tahu darimana mereka tidak akan kembali?
Pada video sebelumnya saya pernah bilang, kamu mungkin bisa menjadi orang munafik tapi kamu tetap bisa kembali. Memangnya siapa mereka yang berani menghakimi orang-orang yang bersalah tersebut?
Kemudian orang yang ingin sungguh-sungguh berdakwah itu akhirnya berbicara pada orang-orang yang berdosa tersebut. Meskipun muslim tapi mereka berdosa. Mereka hanya menjawab dengan sebuah kalimat saja. Kalimatnya sangat indah. Kami akan berbicara dengan mereka, alasannya adalah, “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu.”
“Ya Allah, aku tidak bisa menghentikan perbuatan mereka. Aku tidak bisa mencegah mereka karena tak memiliki kekuasaan atas mereka. Tapi mereka adalah saudara muslimku, paling tidak aku berusaha untuk membimbingnya. Paling tidak aku sungguh-sungguh pada mereka dan berbicara dengan lembut terhadap mereka. Paling tidak aku berusaha menghubungkan mereka kembali dengan-Mu. Paling tidak aku punya alasan terhadap-Mu bahwa aku telah melakukan sesuatu. Aku tidak hanya duduk-duduk dan mengutuk mereka akan masuk neraka. Aku tidak mengabaikan mereka.”
Inilah seharusnya sikap yang kita miliki untuk menghadapi orang-orang muslim yang melakukan dosa. Kita tidak boleh mengabaikan mereka dan kita tidak boleh mengutuk mereka akan masuk neraka. Lalu mengatakan, “Lupakan saja orang-orang ini”. Dan kamu berbicara pada mereka hanya pada saat kau ingatkan betapa berdosa dan ibilisnya mereka.
Tidak tidak seperti itu, kamu harus memberitahu dengan lembut pada mereka dan motivasi kamu melakukan hal tersebut adalah, nanti Allah akan bertanya kepadamu. Mengapa kamu menelantarkan saudaramu? Mengapa kamu menelantarkan saudarimu? Apakah mereka bukan muslim? Memangnya kenapa bila mereka melakukan kerusakan?
Mereka melanggar hukum yang paling penting, yang Allah berikan pada Bani Israil. Mereka adalah muslim pada waktu itu, hukum hari Sabath. Ini bukanlah perbuatan haram yang sepele, ini pelanggaran yang besar. Sesuatu yang Allah sebutkan beberapa kali, tentang pelanggaran hukum Sabath ini, karena Ia sangat terganggu, tapi tetap, kamu jangan menyerah terhadap mereka.
Beri mereka bimbingan. Dan ini akan menjadi sebuah alasanmu pada Allah. “Ya Allah, paling tidak aku melakukan tugasku. Engkau bilang kami ini adalah satu umat. Itu artinya kami tidak boleh meninggalkan seseorangpun di belakang”. Inilah motivasi saya yang kedua. Mungkin mereka akan menjadi orang yang bertakwa di masa depan. Mungkin mereka kelak akan jadi orang baik. Siapa yang tahu? Bagaimana saya bisa menghakiminya?
Jadi ada dua motivasi ‘kan? Inilah bagian paling penting yang perlu saya klarifikasi. Motivasi pertama untuk mengingatkan orang-orang yang telah jauh dari agamanya. Dan mencoba untuk membimbing mereka dengan cara yang halus. Motivasi pertamanya adalah kamu, orang yang berusaha mengingatkan mereka. Harus bisa memastikan bahwa kekhawatiranmu itu hanya karena Allah. Harus bisa mengatakan, “Ya Allah, saya mengkhawatirkan umat ini. Saya mengkhawatirkan saudara dan saudariku.” Karena kelak Allah akan bertanya padamu, “Mengapa kamu tidak peduli pada mereka?”
Itulah motivasi yang pertama. Motivasi yang kedua adalah, siapa tahu mereka akan kembali. Jadi motivasi yang pertama adalah bukan tentang mereka tapi pada dirimu sendiri dulu. Coba pikirkan itu. Agar kami mempunyai alasan dan mungkin mereka kelak akan menjadi orang-orang baik. Mungkin mereka kelak akan menjadi orang yang bertakwa.
Semoga Allah membantu kita memahami, bagaimana bersopan santun, cinta dan kesabaran. Yang harus kita miliki untuk membantu mereka yang terjatuh dalam dosa. Semoga Allah membantu kita kembali ke jalan-Nya.
BarakAllahuli walakum, Wassalamu
alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Beberapa hal yang menjadi catatan saya secara
pribadi mengenai penjelasan di atas :
Ini penting untuk dicatat, bahwa dakwah bukanlah kamu selalu memberitahu seseorang untuk tidak melakukan sesuatu. Dakwah terkadang hanya butuh mengingatkan mereka bahwa misalnya, “Allah-lah yang menciptakan kamu, apakah kamu tahu bahwa kamu harus memenuhi perintahNya? Kita harusnya bersyukur pada Allah.”
Cukup diingatkan untuk ingat Allah. Kamu terkadang tidak harus mengatakan bahwa orang itu melakukan hal-hal yang haram. Cukup banyak ingatkan mereka pada Allah. Dan mereka nanti akan menyimpulkan sendiri bahwa perbuatannya salah.
Terkadang yang orang-orang itu butuhkan adalah peringatan akan Allah. Bukan yang mereka lakukan dihadapanmu. Karena mereka nanti bisa bertahan dengan perilakunya tersebut.
Lihatlah betapa yakinnya mereka akan apa yang akan Allah lakukan pada mereka. Ini menakjubkan ‘kan? Seolah-olah Allah memberitahukan mereka, inilah yang akan Ia lakukan pada orang-orang ini. Kamu tahu darimana mereka tidak akan bertaubat? Kamu tahu darimana mereka tidak akan kembali?
kamu mungkin bisa menjadi orang munafik tapi kamu tetap bisa kembali. Memangnya siapa mereka yang berani menghakimi orang-orang yang bersalah tersebut?
Kemudian
orang yang ingin sungguh-sungguh berdakwah itu akhirnya berbicara pada
orang-orang yang berdosa tersebut. Meskipun muslim tapi mereka berdosa. Mereka
hanya menjawab dengan sebuah kalimat saja. Kalimatnya sangat indah. Kami akan berbicara
dengan mereka, alasannya adalah, “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung
jawab) kepada Tuhanmu.”
Inilah seharusnya sikap yang kita miliki untuk menghadapi orang-orang muslim yang melakukan dosa. Kita tidak boleh mengabaikan mereka dan kita tidak boleh mengutuk mereka akan masuk neraka. Lalu mengatakan, “Lupakan saja orang-orang ini”. Dan kamu berbicara pada mereka hanya pada saat kau ingatkan betapa berdosa dan ibilisnya mereka.
Tidak tidak seperti itu, kamu harus memberitahu dengan lembut pada mereka dan motivasi kamu melakukan hal tersebut adalah, nanti Allah akan bertanya kepadamu. Mengapa kamu menelantarkan saudaramu? Mengapa kamu menelantarkan saudarimu?
Apakah mereka bukan muslim? Memangnya kenapa bila mereka melakukan kerusakan?
Beri
mereka bimbingan. Dan ini akan menjadi sebuah alasanmu pada Allah. “Ya Allah,
paling tidak aku melakukan tugasku. Engkau bilang kami ini adalah satu umat.
Itu artinya kami tidak boleh meninggalkan seseorangpun di belakang”. Inilah
motivasi saya yang kedua. Mungkin mereka akan menjadi orang yang bertakwa di
masa depan. Mungkin mereka kelak akan jadi orang baik. Siapa yang tahu?
Bagaimana saya bisa menghakiminya?
Jadi ada dua motivasi ‘kan? Inilah bagian paling penting yang perlu saya klarifikasi. Motivasi pertama untuk mengingatkan orang-orang yang telah jauh dari agamanya. Dan mencoba untuk membimbing mereka dengan cara yang halus. Motivasi pertamanya adalah kamu, orang yang berusaha mengingatkan mereka. Harus bisa memastikan bahwa kekhawatiranmu itu hanya karena Allah. Harus bisa mengatakan, “Ya Allah, saya mengkhawatirkan umat ini. Saya mengkhawatirkan saudara dan saudariku.” Karena kelak Allah akan bertanya padamu, “Mengapa kamu tidak peduli pada mereka?”
Itulah
motivasi yang pertama. Motivasi yang kedua adalah, siapa tahu mereka akan
kembali. Jadi motivasi yang pertama adalah bukan tentang mereka tapi pada
dirimu sendiri dulu. Coba pikirkan itu. Agar kami mempunyai alasan dan mungkin
mereka kelak akan menjadi orang-orang baik. Mungkin mereka kelak akan menjadi
orang yang bertakwa.
Dan akhirnya saya tidak jadi berpendapat apa2 karena menurut saya penjelasan yang diterangkan oleh brother Nouman Ali Khan sudah cukup buat saya untuk tidak menghakimi siapapun.
Dan satu hal lagi sebelum saya menyudahi ini, menurut saya sih mereka (yang masih belasan) adalah korban juga yah mungkin dari sinetron kita sendiri yang TERNYATA isinya adalah anak remaja pacaran. semoga kita bisa lebih bijak dalam bersikap
Wassalamualaikum